Penentuan sulfat secara potensiometrik dengan metoda back titration, contoh larutan diendapkan sebagai barium sulfat dengan cara menambahkan barium klorida berlebihan,kelebihan Barium dititrasi dengan larutan NaEDTA menggunakan elektroda ion selektif kalsium. Perbedaan antara barium klorida yang ditambahkan dengan kelebihan barium yang dititrasi merupakan barium sulfat yang diendapkan. Tujuan dari percobaan ini adalah melakukan analisis penentuan sulfat di dalam larutan standar Na2SO4 Dalam percobaan digunakan sulfat standar 1000 ppm, larutan Ba Cl2 0,01 M, larutan Ca 1000 ppm dan larutan titer EDTA 0,01 M. Parameter percobaannya yaitu variasi konsentrasi sulfat dari 2, 5, 10 dan 20 ppm, dari hasil percobaan diperoleh bahwa untuk penentuan sulfat jangkauan analisis berkisar dari 5 s/d 20 ppm, kesalahan analisis berkisar antara 1,70 dan 2,40 % dengan batas deteksi terendah sebesar 2 ppm . Hasil analisis penentuan sulfat di dalam FeSO4 7H2O dan Na2SO4 sebesar 33,95 dan 59,86 %.
Tuesday, January 20, 2009
Penentuan sulfat secara potensiometri
Penentuan sulfat secara potensiometrik dengan metoda back titration, contoh larutan diendapkan sebagai barium sulfat dengan cara menambahkan barium klorida berlebihan,kelebihan Barium dititrasi dengan larutan NaEDTA menggunakan elektroda ion selektif kalsium. Perbedaan antara barium klorida yang ditambahkan dengan kelebihan barium yang dititrasi merupakan barium sulfat yang diendapkan. Tujuan dari percobaan ini adalah melakukan analisis penentuan sulfat di dalam larutan standar Na2SO4 Dalam percobaan digunakan sulfat standar 1000 ppm, larutan Ba Cl2 0,01 M, larutan Ca 1000 ppm dan larutan titer EDTA 0,01 M. Parameter percobaannya yaitu variasi konsentrasi sulfat dari 2, 5, 10 dan 20 ppm, dari hasil percobaan diperoleh bahwa untuk penentuan sulfat jangkauan analisis berkisar dari 5 s/d 20 ppm, kesalahan analisis berkisar antara 1,70 dan 2,40 % dengan batas deteksi terendah sebesar 2 ppm . Hasil analisis penentuan sulfat di dalam FeSO4 7H2O dan Na2SO4 sebesar 33,95 dan 59,86 %.
Friday, January 16, 2009
PENGOLAHAN EFLUEN URANIUM DENGAN CARA PENGERINGAN
Ringkasan
Efluen proses kimia yang mengandung uranium berkisar 0,19 s/d 1 g/L dengan cara pengeringan. Tujuannya adalah pemungutan Uranium dari efluen dan filtratnya dikeringkan untuk disimpan sementara dalam bentuk padatan kering. Cara yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode gravimetri. Mula-mula 50 mL efluen Uranium dengan keasaman 2,71 s/d 5,94 N dinetralkan dengan Natrium Hidroksida teknis sampai dengan pH=7, disaring dan filtratnya panaskan sampai kering, hasilnya ditimbang dan disimpan dalam keadaan kering. Dari hasil pengeringan dapat dihitung berat efluen Uranium kering yang dihasilkan dan Natrium Hidroksida teknis yang dibutuhkan untuk memproses efluen Uranium yang ada di ruang HR 24A gedung 65 B3N – PTBN. Dari percobaan diperoleh hasil bahwa dari 6 varian Efluen Uranium(masing masing 50 mL) yang dikeringkan menghasilkan efluen Uranium kering berkisar antara 7,88 s/d 21,34 g dan membutuhkan Natrium hidroksida berkisar antara 4,78 s/d 10,91g. Dari data percobaan ini dapat disimpulkan bahwa untuk mengeringkan efluen Uranium sebanyak 120 L dihasilkan padatan kering sebanyak 28,69 kg dan dibutuhkan 16,67 Kg Natrium Hidroksida teknis (kristal).
Ingin bisnis berpenghasilan jutaan rupiah dengan mudah di Internet pilih salah satu cara dibawah ini :
Hasil yang lebih lengkap dapat dilihat pada
PENGOLAHAN EFLUEN URANIUM DENGAN CARA PENGERINGAN
Pengolahan Efluen Uranium
PENENTUAN KALSIUM DAN MAGNESIUM DI DALAM AIR SECARA POTENSIOMETRI
P-penentuan Kalsium Dan Magnesium Di Dalam Air Secara Potensiometri
Thursday, January 15, 2009
ANALISA URANIUM SECARA POTENSIOMETRIK DENGAN MODIFIKASI METODE TITAN
ANALISA URANIUM SECARA POTENSIOMETRIK DENGAN MODIFIKASI METODE TITAN
Ringkasan
Analisa uranium secara potensiometrik dari 1-20 mg dengan modifikasi metode titan telah dilakukan. Uranil nitrat 6 hidrat digunakan sebagai sumber uranium standar dan titan klorida digunakan sebagai reduktor dalam medium asam sulfamat satu molar dan kalium bikhromat sebagai oksidatornya. Uranium (VI) direduksi menjadi uranium (IV) oleh titan (III), kemudian uranium (IV) dititrasi secara potensiometrik dengan kalium bikhromat menjadi uranium (VI) menggunakan elektrode platina. Hasil analisa menunjukkan, semakin besar uranium yang dianalisa faktor koreksi mendekati satu. Untuk berat uranium 1 mg faktor koreksi = 0.752 dan untuk berat uranium 20 mg = 0.949. Setelah dikoreksi didapatkan persamaan garis linier Y = 1.0001 x - 0.0021 dan r = 1.
Ingin bisnis berpenghasilan jutaan rupiah dengan mudah di Internet pilih salah satu cara dibawah ini :
Hasil selengkapnya bisa dilihat pada
ANALISA URANIUM SECARA POTENSIOMETRIK DENGAN MODIFIKASI METODE TITAN
Ticl3.
Analisis uranium dalam fasa organik
ANALISIS URANIUM DALAM FASA ORGANIK
Ringkasan
Uranium yang ada dalam fasa organik dianalisis dengan cara titrasi potentiometric, dan menentukan batas deteksi analisis, hasil selengkapnya bisa dilihat pada Analisis uranium dalam fasa organik
Ingin bisnis berpenghasilan jutaan rupiah dengan mudah di Internet pilih salah satu cara dibawah ini :
Analisis Uranium Dlm Fasa Org.
ANALISIS URANIUM DALAM FASA ORGANIK
RINGKASAN
Analisis uranium dalam fasa organik . Telah dilakukan analisis uranium dalam fasa organik .Tujuan dari analysis ini adalah menentukan variabel yang berpengaruh selama striping, dari hasil striping dapat ditentukan kondisi optimum untuk analysis. Fasa organik ( TBP kerosin – UN ) yang mengandung uranium distriping dengan larutan natrium carbonat. Hasil striping dianalisis uraniumnya dengan metoda ASTM C 696-80. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi striping, dan mencari limit deteksi untuk menentukan batas minimum uranium dalam fasa organik yang bisa dianalisis. Optimasi dilakukan dengan cara mencari waktu dan konsentrasi natrium karbonat yang optimal untuk striping. Waktu striping dibuat variasi 0, 1 dan 3 menit dan konsentrasi sodium karbonat dibuat variasi 5, 7.5 dan 10 %(b/v). Untuk menentukan limit deteksi, dilakukan analisis uranium dalam fasa organik dengan konsentrasi 1, 2 dan 5 g / L. Dari hasil analisis dapat disimpulkan striping optimum dilakukan selama 1 menit dan konsentrasi natrium karbonat yang digunakan sebesar 10 %(b/v). Uranium dalam fasa organik yang teranalisis maksimum 98,49 %(b/v) dari 29,22 g/L. Batas minimum uranium dalam fasa organik yang bisa dianalisis sebesar 2 g/L Uranium .
Hasil lengkapnya bisa dilihat
ANALISIS URANIUM DALAM FASA ORGANIK
RINGKASAN
Analisis uranium dalam fasa organik . Telah dilakukan analisis uranium dalam fasa organik .Tujuan dari analysis ini adalah menentukan variabel yang berpengaruh selama striping, dari hasil striping dapat ditentukan kondisi optimum untuk analysis. Fasa organik ( TBP kerosin – UN ) yang mengandung uranium distriping dengan larutan natrium carbonat. Hasil striping dianalisis uraniumnya dengan metoda ASTM C 696-80. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi striping, dan mencari limit deteksi untuk menentukan batas minimum uranium dalam fasa organik yang bisa dianalisis. Optimasi dilakukan dengan cara mencari waktu dan konsentrasi natrium karbonat yang optimal untuk striping. Waktu striping dibuat variasi 0, 1 dan 3 menit dan konsentrasi sodium karbonat dibuat variasi 5, 7.5 dan 10 %(b/v). Untuk menentukan limit deteksi, dilakukan analisis uranium dalam fasa organik dengan konsentrasi 1, 2 dan 5 g / L. Dari hasil analisis dapat disimpulkan striping optimum dilakukan selama 1 menit dan konsentrasi natrium karbonat yang digunakan sebesar 10 %(b/v). Uranium dalam fasa organik yang teranalisis maksimum 98,49 %(b/v) dari 29,22 g/L. Batas minimum uranium dalam fasa organik yang bisa dianalisis sebesar 2 g/L Uranium .
PENDAHULUAN
Dalam usaha meningkatkan kualitas pelayanan laboratorium kendali kualitas di Bidang Teknologi Bahan Bakar Reaktor Daya, maka pelayanan analisis yang ada kaitannya dengan pembuatan bahan bakar nuklir perlu disediakan oleh laboratorium kendali kualitas. Diantara analisis tersebut adalah analisis uranium dalam fasa organik, analisis uranium dalam fasa organik ini perlu dilakukan terutama dalam tahap pemurnian. Di dalam proses pemurnian yang meliputi pelarutan yellow cake dan ekstraksi.
Selama ektraksi berlangsung terbentuk dua fasa yaitu fasa air dan fasa organik, uranium selain dalam fasa air juga terdapat dalam fasa organik, oleh karena itu perlu adanya prosedur analisis uranium dalam fasa organik. Proses analisis ini adalah melakukan striping uranium yang ada dalam fasa organik dipindahkan ke fasa air dengan larutan natrium karbonat 10 %(b/v) dan dianalisis dengan metoda yang sudah ada (ASTM 696). Di dalam analysis ada dua va riabel yang berpengaruh yaitu waktu striping dan konsentrasi sodium karbonat. Waktu striping divariasi 0, 1 dan 3 menit sedangkan konsen trasi karbonat divariasi 5, 7.5 dan 10%(b/v) Striping dan analisis dilakukan pada tempat yang sama.
Tujuan dari analisis ini adalah mencari kondisi optimum dan menentukan variabel yang berpe- ngaruh didalam analisis . Dari optimasi ini diharapkan diperoleh prosedur yang mempunyai ketepa- tan dan ketelitian yang tinggi dan mudah dilakukan.
Selama ini analisis uranium dalam fasa organik belum dilakukan dida- lam laboratorium kendali kualitas. Untuk mengetahui uranium dalam fasa organik biasanya dilakukan se- cara tidak langsung, yaitu menga- nalisis uranium dalam fasa air sebe- lum dan setelah ekstraksi. Selisih hasil analisis dari keduanya merupa- kan uranium dalam fasa organik. Analisis ini sulit dilakukan apabila ekstraksi berjalan secara kontinyu dan akan kesulitan untuk mengana- lisis fasa organik yang asal usulnya tidak diketahui. Untuk mengatasi hal ini dilakukan percobaan analisis ura- nium dalam fasa organik secara langsung. Analisis ini dilakukan de- ngan cara melakukan striping fasa organik. Uranium dalam fasa air terbentuk dianalisis secara langsung pada tempat yang sama dengan metoda ASTM C696-80 dengan menggunakan alat titroprocessor.
METODA
Metoda yang digunakan dalam anali- sis uranium dalam fasa organik adalah titrimetri (redox) yang menga- cu pada prosedur ASTM C 696-80. Pada percobaan ini dilakukan optimasi striping dan mencari limit deteksi analisis. Optimasi striping dengan parameter waktu striping dan konsentrasi natrium karbonat. Optimasi striping dengan variasi 0, 1, dan 3 menit dan konsentrasi natrium karbonat dengan variasi 5, 7,5 dan 10%(b/v). Limit deteksi dengan parameter konsentrasi uranium dalam fasa organik dengan variasi 5, 2 dan 1 g/L uranium. Dari hasil percobaan ini diperoleh kondisi optimal untuk mela kukan striping dan batas minimal uranium dalam fasa organik yang bisa dianalisis.
TATA KERJA
Optimasi striping :
Menentukan waktu striping :
Ambil 1mL fasa organik dengan kon- sentrasi tertentu (29,22 g/L) distri- ping dengan 1 mL natrium karbonat 10 %(b/v) dengan variasi waktu 0, 1 dan 3 menit dan dianalisis dengan metoda ASTM C 696-80. Dari hasil percobaan ini diperoleh waktu opti mal untuk melakukan striping. Ma- sing masing variabel dilakukan ana lisis 3 kali.
Menentukan konsentrasi larutan karbonat :
Ambil 1 mL fasa organik distriping dengan 1mL natrium karbonat dengan variasi konsentrasi 5.0, 7.5 dan 10 %(b/v) selama waktu optimal yang diperoleh pada percobaan pertama dan dianalisis dengan metoda ASTM C696-80. Dari hasil percobaan ini diperoleh konsentrasi optimal dari natrium karbonat yang digunakan untuk striping. Masing masing variabel dilakukan analisis 3 kali
Limit deteksi pengukuran :
Menentukan batas minimal uranium dalam fasa organik yang bisa diana lisis : Ambil 1 mL fasa organik de ngan variasi konsentrasi 1.0, 2.0, dan 5.0 g/L distriping dengan 1 mL larutan. Natrium karbonat 10 %(b/v) selama 1 menit dan dianalisis de- ngan metoda ASTM C 696-80. Masing masing variabel dilakukan analisis 7 kali.
HASIL DAN BAHASAN
Hasil percobaan dapat dilihat pada Tabel-1,Tabel-2 dan Tabel-3 kemudian ditunjukkan pada Gambar-1, Gambar-2 dan Gambar-3. Pada Gambar –1 terlihat bahwa striping yang dila kukan dengan menggunakan larutan natrium karbonat 10 %(b/v) dengan variasi waktu dari 0 – 3 menit dapat memberikan perubahan uranium yang teranalisis dalam fasa organik. Makin lama waktu striping, uranium dalam fasa organik yang teranalisis makin besar yaitu antara 92,74 sampai dengan 98,47 %(b/v).Pada variasi waktu striping 1 – 3 menit uranium dalam fasa organik yang teranalisis berkisar antara 98,42 –98,47 %(b/v). Pada variasi waktu ter sebut uranium yang teranalisis su dah menunjukkan harga yang kons tan. Hal ini menunjukkan bahwa striping dapat dilakukan antara waktu 1 – 3 menit, dan percobaan ini
Gambar 1 : Pengaruh waktu striping terhadap U teranalisis
dipilih waktu 1 menit untuk melakukan striping
Pada Gambar-2 terlihat bahwa kon sentrasi natrium karbonat dapat mempengaruhi uranium dalam fasa organik yang teranalisis. Pada percobaan ini konsentrasi larutan natrium karbonat yang digunakan divariasikan antara 5.0, 7.50, dan 10 %(b/v). dan waktu striping selama 1 menit. Pada percobaan Gambar-2 ini hanya membuktikan pada literatur yang ada, bahwa striping dilakukan pada konsentrasi 10 %(b/v).. Striping dengan menggunakan larutan karbo- nat 5-10 %(b/v). Uranium dalam fasa organik yang teranalisis berkisar antara 85,80 s/d 98,23 %(b/v).
Uranium teranalisis terbesar ditunjukkan pada striping dengan menggunakan Larutan Karbonat 10 %(b/v). yaitu 98,23 %(b/v). Dan tidak dilakukan striping dengan menggu- nakan larutan Karbonat lebih besar 10 %(b/v) karena mengacu pada literatur yang ada yaitu 10 %(b/v). (3)
GAMBAR-2 : Pengaruh konsentrasi lart. Natrium karbonat terhadap U teranalisis.
Pada Gambar-3 menunjukkan perco- baan yang dilakukan pada konsen- trasi uranium yang sangat rendah. Maksud dari percobaan ini yaitu untuk menentukan batas minimal uranium dalam fasa organik yang masih bisa dianalisis dengan kesa- lahan analisis maksimal 5 %(b/b). Dari Gambar ini dapat terlihat bahwa batas minimal uranium dalam fasa organik yang masih bisa dianalisis dan memberikan kesalahan lebih kecil 5 %(b/b). Harga ini dapat ditunjukkan pada fasa organik dengan konsentrasi 2 g/L U. dengan kesalahan analisis 4.239 %(b/b). Pada Gambar-2 ini dapat menunjukkan bahwa konsentrasi 1 gr U / ltr masih bisa dianalisis tapi mempunyai kesalahan lebih besar 5 %(b/b). Jadi limit deteksi pada percobaan ini adalah fasa organik dengan konsentrasi 2 g/L U.
GAMBAR-3 : Pengaruh uranium dalam fasa organik terhadap kesa lahan analisis.
KESIMPULAN :
Kesimpulan yang diperoleh dalam percobaan ini adalah analisis urani um dalam fasa organik bisa dila kukan menggunakan metoda ASTM C-696-80 dengan kondisi optimum :
Waktu striping 1 menit
Larutan natrium karbonat 10 %(b/v)
Limit deteksi U dalam fasa organik 2 g/L seperti trlihat pada pembahasan..
Batas terkecil pengukuran 1 g/L
DAFTAR PUSTAKA :
ASTM STANDARD, Designation C696-80, “ Standard Methods for Chemical, Mass Spectrometric, Spectrochemical, Nuclear and Radiochemical Analisis of Nu clear-Grade Uranyl nitrate solution “, American Standard Institute, (1983), p51-53
ANONIM, “Instruction for use”, Metrohm AG CH-9100 Herisau, Titroprocessor 672, Switzerland, (1984).
GALKIN NP., SUDARIKOV, B.N., VERYATIN, A.A., Techno logi of uranium, Atomizdat, Moskva, 1964, p.152-153.
